Aktor sepakbola Aktor Islam, Kanoute..

•Juli 8, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tak banyak pesepak bola Muslim yang mau menunjukkan identitas keislamannya di lapangan hijau. Pengecualian itu tak berlaku buat Frederic Kanoute. Penyerang klub sepakbola asal Spanyol, Sevilla bangga menjadi seorang Muslim, dan itu ia tunjukan dengan jelas dalam aksi, sikap hidup, atau selebrasinya.

Hidup di Barat, dan bergelut dengan budaya serta kebiasaan yang banyak bertentangan dengan prinsip hidup seorang Muslim, memang berat. Apalagi di dunia sepak bola, satu bidang olahraga yang paling popular di Eropa dan sangat memberi ruang pada kebebasan duniawi. Bahkan cenderung membuat orang lupa akan nilai-nilai agama. Kalaupun ada, untuk insan pesepak bola Muslim, diharuskan berhati-hati. Bukan rahasia lagi, sentimen agama masih keras dirasakan, selain juga anti-Islam yang banyak didengungkan oleh banyak pihak.

Kita tentu mengenal beberapa nama terkenal yang menghiasi dunia bola internasional. Misalnya saja, Zinedine Zidane. Jika Anda pergi ke tanah Arab dan berjumpa dengan seorang penggila bola di sana, maka jangan heran jika Zidane dianggap dewa, dikagumi sedemikian rupa. Alasannya? “Zidane seorang Muslim!”. Tapi apa daya, jarang sekali, bahkan mungkin kita tidak pernah melihat Zidane menunjukan sikapnya yang Muslim itu sendiri. Jika merayakan gol, Zidane biasa saja. Berita-berita tentang keseharian Zidane yang menunjukan kebiasaan Muslimnya, amatlah minim. Terus, kedua anak Zidane pun diberi nama Enzo dan Luca, dua nama yang sama sekali tidak mencirikan identitas Islam.

Zidane hanya satu contoh. Di Jerman, ada Franck Ribery yang juga Muslim namun—maaf—masih ikut menenggak bir ketika Bayern Muenchen juara liga. Di Premier League, Nicolas Anelka sering meletakan dua tangannya usai mencetak gol sebagai tanda syukur yang menunjukan ia seorang Muslim. Namun, media Inggris juga ramai memberitakan kehidupan bebasnya. Wallohu alam.

Namun, berbeda dengan Frederic Kanoute. Di dalam dan luar lapangan, ia adalah Muslim sejati. Siapa Kanoute?

Karir Sepakbola Kanoute

Kanoute terlahir dengan nama Frederic Oumer Kanoute di Sainte-Foy-lès-Lyon, 2 September 1977. Walaupun lahir di Prancis, tetapi Kanoute lebih dekat dengan Negara asal kedua orang tuanya, Mali. Ini dikarenakan ikatan Muslim yang melekat dalam dirinya.


Karir sepakbolanya dimulai di klub Prancis, Lyon. Ia memulai di usia yang cukup belia yaitu 18 tahun. Tahun 2000, Kanoute direkrut oleh salah satu klub Liga Inggris, West Ham United. Di klub ini, ia main sebanyak 84 kali dan menghasilkan 29 gol. Jumlah yang cukup banyak untuk ukuran pendatang baru saat itu. Karena aksinya itu, Kanoute diminati klub yang lebih besar. Pada tahun 2002, ia pun hijrah ke Tottenham Hotspur. Di Spurs, Kanoute hanya bertahan dua musim dengan torehan gol sebanyak 21. Namun karir cemerlang Kanoute sebenarnya semakin nampak ketika ia mulai bermain untuk Sevilla, klub Spanyol. Di klub ini, kecuali musim pertamanya dan musim 2008-2009, Kanoute selalu mencetak gol lebih dari 20 gol setiap musimnya. Jumlah yang hanya bisa diraih segelintir penyerang saja.

Keislaman Kanoute

Kanoute tak pernah sungkan dalam menunjukan identitas keislamannya, baik di luar lapangan ataupun di dalam lapangan. Di lapangan misalnya, setiap kali mencetak gol, ia tak pernah lupa merayakannya dengan cara-cara yang “berani”. Misalnya dengan bersujud dan atau gerak tangan seperti orang Islam yang telah berdoa.

Dalam kondisi apapun, Kanoute tetap menjalankan kewajibannya untuk shalat. Tak jarang ia shalat di kamar ganti dan disaksikan oleh rekan-rekannya. Awalnya ritual itu membuat heran sesama pemain yang memang notabene non-Islam, namun lama-kelamaan, hal itu menjadi pemandangan yang biasa. Bahkan rekan-rekannya di Sevilla memberikan toleransi yang besar kepada Kanoute untuk melaksanakan keyakinannya.

Jika Ramadhan mendatang, Kanoute tetap menjalankan ibadah puasa. Baik ketika latihan ataupun bertanding. Namun, khusus ketika berlatih, pelatih fisik Sevilla memberikan kelonggaran kepada Kanoute untuk berlatih tidak secara penuh. Sedangkan dalam pertandingan, Kanoute tetap bermain penuh dan profesional kendati tidak makan dan minum. Untungnya, pertandingan Liga Spanyol lebih banyak dimainkan pada waktu malam hari, terutama untuk klub-klub besar.
Ketika Gaza tengah diobrak-abrik Israel, ribuan rakyat Palestina syahid akibat agresi kaum Yahudi Zionis Januari silam, Kanoute tercatat hanya satu-satunya pesepakbola yang menyampaikan simpati dan dukungannya kepada Palestina. Hal itu ia tunjukan dengan cara membuka bajunya untuk memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan “Palestine”. Kata Palestina itu ditulis juga dalam beberapa bahasa yang lain. Itu ia lakukan dalam pertandingan Sevilla kontra Deportivo La Coruna.
Aksi Kanoute tersebut mengundang banyak komentar dan reaksi. Federasi Sepak Bola Spanyol (REF) memberlakukan denda kepada Kanoute sebanyak 3000 euro atau sekitar Rp. 45 juta. Keputusan Federasi Sepak Bola Spanyol ini menuai aksi protes dari segala penjuru. Peraturan federasi Spanyol melarang para pemain menunjukkan berbagai publisitas atau slogan-slogan sepanjang pertandingan berlangsung. Menurut federasi itu, hukuman tersebut tidak mempermasalahkan sifat dasar politik dari pesan itu. Tetapi mereka menyoroti fakta bahwa sang pemain telah menunjukkan suatu pesan yang dinilai melanggar peraturan. Pep Guardiola, pelatih Barcelona, membela Kanoute untuk aksinya itu.

Tanggapan Kaonute? ”Itu merupakan sesuatu yang saya rasa harus saya lakukan. Setiap orang seharusnya merasa bertanggung jawab saat menyaksikan ada suatu situasi yang sangat tidak adil itu. Saya merasa 100 persen bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dan saya tidak takut atas sanksi itu,” ujarnya kepada televisi swasta Telecinco.

Muslim di Luar Lapangan

Kanoute memang dikenal sebagai muslim yang taat. Pada tahun 2007 misalnya, pemain terbaik Afrika 2007 ini pernah memberikan gajinya selama setahun, sebesar 700.000 dolar AS atau sekitar Rp 7 miliar untuk menyelamatkan masjid terakhir yang ada di Sevilla. Masjid tersebut sedianya akan dijual karena populasi Muslim di kota tersebut mulai punah. Pemerintah setempat pun akhirnya memberi nama tempat ibadah tersebut sesuai dengan sang pembeli.

“Jika tidak ada Kanoute, kami tidak akan beribadah pada hari Jumat lagi, di mana itu adalah hari yang suci bagi umat muslim,” tukas wakil dari komunitas Islam Spanyol, sesaat setelah Kanoute membeli Masjid tersebut, seperti dilansir AFP.

Ketaatan Kanoute dalam mengamalkan ajaran Islam juga mendapat dukungan penuh dari Sevilla. Ia diberi jersey (seragam) khusus tanpa sponsor. Hal itu karena sponsor utama Los Palanganas, 888.com, adalah situs judi yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ia juga menyumbangkan seluruh hasil penjualan kaosnya untuk beramal. (sa/bbc/wkpd)

Renunganku….

•April 3, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
renunganku

renunganku

Bila hati ini tergerus dendam
Jalanku mulai mengarah pada sesat
Imamku kabur bagai kabut malam
Cintaku hitam,gelap dan pekat

Bisikan setan bersajadah
Gerogoti keyakinanku akan benar
Munculkan berribu-ribu api amarah
Perang dalam hati mulai berkobar

Saat tetesan darah terakhir habis
Nurani jiwa terbangun dari tidur
Sesal hati telah menjadi tangis
Rasa iba menusuk dan menjalar

Kata maaf ini bukan hiasan duka
Lahir dari sari akan kealpaan jiwa
Tobatku ini adalah kekalahanku akan kebenaran-Nya
Aku tanggung beban neraka selamanya

semua yang datang dan pergi silih berganti memancarkan kebesaranmu Ya Allah. Dari Hambamu yang merindukanmu melandfile mysite Lanjutkan membaca ‘Renunganku….’

Doaku..

•April 2, 2009 • 3 Komentar
Allahu Akbar

Allahu Akbar

Inilah goresan pena dari sang ikhwan (ana) yang mendambakan akhwat sholehah, yang bisa bersama untuk mencintai Mu Ya Robbi dan mencintai Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam.

Yaa……Rabbi……..
Aku berdoa untuk seorang akhwat yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sangat mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang yang akan meletakkanku pada posisi di hatinya setelah Engkau dan Muhammad shallahu’alaihiwasalam
Seseorang yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk-Mu dan orang lain

Wajah, fisik, status atau harta tidaklah penting
Yang terpenting adalah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau
Dan berusaha menjadikan sifat-sifat baikMu ada pada pribadinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup
Sehingga hidupnya tidak sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak, tidak hanya otak yang cerdas
Seseorang yang tidak hanya mencintaiku, tapi juga menghormatiku
Seorang yang tidak hanya memujaku, tetapi juga dapat menasehatiku
Seseorang yang mencintaiku bukan karena fisikku, hartaku atau statusku tapi karena Engkau

Seorang yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang membuatku merasa sebagai lelaki shalehah ketika aku berada di sisinya
Seseorang yang bisa menjadi asisten sang nahkoda kapal
Seseorang yang bisa menjadi penuntun kenakalan balita yang nakal
Seseorang yang bisa menjadi penawar bisa
Seseorang yang sabar mengingatkan saat diriku lancang

Ya..Rabbi……
Aku tak meminta seseorang yang sempurna
Hingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seseorang yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya lebih hidup

Aku tidak mengharap dia semulia Fatimah Radhiyallahuanha, tidak setaqwa Aisyah Radhiyallahuanha ,Pun tidak secantik Zainab Radhiyallahuanha, apalagi sekaya Khodijah Radhiyallahuanha.
Aku hanya mengharap seorang akhwat akhir zaman,
Yang punya cita-cita mengikuti jejak mereka,
Membangun keturunan yang sholeh,
Membangun peradaban,
dan membuat Rasulullah shallahu’alaihiwasalam bangga di akhirat

Karena aku sadar aku bukanlah
orang yang semulia abu baker Radhiyallahu,
Atau setaqwa umar Radhiyallahu, pun setabah Ustman Radhiyallahu,
Ataupun sekaya Abdurrahman bin auf Radhiyallahu, setegar zaid Radhiyallahu
Juga segagah Ali Radhiyallahu, apalagi setampan usamah Radhiyallahu.
Aku hanyalah seorang lelaki akhir zaman
yang punya cita – cinta

Ya…..Rabbii …….
Aku juga meminta, Jadikanlah ia sandaran bagiku
Buatlah aku menjadi ikhwan yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sepenuh jiwaku

Berikanlah sifat yang lembut, sehingga auraku datang dariMu

Berikanlah aku tangan sehingga aku mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak kebaikan dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,
Mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat

kokohnya benteng tidak bisa dibangun dalam semalam, namun bisa hancur dalam sedetik
Kota Baghdad tak dibangun dalam sehari, namun bisa hancur dalam sekejap

Perkawinan tak dirajut dalam pertimbangan sesaat, namun bisa saja terberai dalam sesaat
Pernikahan, bukanlah akhir dari sebuah perjalanan
Tapi awal sebuah langkah
Karenanya, jadikanlah kelak pernikahan kami sebagai titian
Untuk belajar kesabaran & ridho-Mu, ya Rabbi

Dan bilamana akhirnya kami berdua bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
” Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang
dapat membuat hidupku menjadi sempurna”.

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segalanya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan….

Astaghfirullah, Wallahu’alam bisshowab

Dari ikhwan yang membutuhkan ampunan Allah azzawajalla, dan mengharapkan doaku dikabulkanNYA untuk mendapatkan istri yang sholehah.

Jatuh Cinta Lagi

•Maret 29, 2009 • 1 Komentar

1586555

kisah ku  pada smu dulu, sekarang bertemu kembali..setelah tidak bertemu lagi,kini Pertama kali bertemu rasa gugup, bahagia, deg-degan bercampur menjadi satu mewarnai hari-hariku. sungguh indah melihat dia sekarang berjilbab,hati menjadi teduh melihat senyum merona diwajahnya membuat ku dapat mengerti rasa cinta mengalir bagaikan hujan, perasan rindu mendera seakan tak terbendung. Memang momen-momen jatuh cinta itu indah rasanya. Lalu bagaimana perasaan gwa sekarang, apakah masih seperti dulu, merasakan sesuatu yang menggebu-gebu?Allah tolonglah ini yg dinamakan jatuh cnta, Seringkali yang terjadi di dalam suatu hubungan yang telah lama terjalin, kehangatan tak begitu terasa lagi. Yang ada hanya sikap dingin dan segala perilaku yang dianggap kebiasaan dan kewajiban.  Kalau dulu rasa diberikan karena rasa rindu dan ingin selalu dekat, kini rasa itu  bisa dimaknai dengan mengaduh memohon doa setiap harinya. Dulu setiap detik dan waktu hanya ingin dilewatkan berdua, kini masing-masing sibuk dengan urusan kerja dan kegiatan kuliah gw. Ah inikah cinta yang dahulu diperjuangkan dan diimpikan?

Kemarin ketemu tapi rasanya ingin ketemu lagi, sungguh perasaan yg penasaran.. di kosan gundah,ingin rasanya pulang kerumah untuk bertemu dirinya kembali tentunya dengan melihat satu titik senyuman  yg seakan ingin memanjanya dengan doa kepada yg maha kuasa. semoga perasaan ini menjadi abadi dalam rindu kepadaNYA. amin

terimakasih ( L… ) aku selalu merindukan senyummu lagi.

memory in kelapa gading 30maret …melandfile..

Dasar Caleg…

•Maret 29, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

politisi_maling

”Kita bakal menemukan banyak orang dermawan, orang baik-baik, orang yang peduli rakyat, orang yang bersih, dan jujur pada kisaran tahun 2008 dan 2009. Mereka bertebaran dimana-mana. Bahkan orang-orang baik itu akan laksana malaikat yang mengetuk pintu-pintu rumah kita sekedar untuk berbagi rezeki.” Kelakar saya kepada kawan-kawan suatu ketika.

“Sayangnya, pada 2010, 2011 dan 2012… tiba-tiba di persada kita bertebar para penjahat, perampok, dan pencuri. Malaikat-malaikat tadi tiba-tiba membuka topengnya dan tersingkaplah wajah coreng moreng yang sesungguhnya. Mereka di kala itu tak lebih dari penguras harta rakyat. Rezeki yang mereka tanamkan ke pundi-pundi milik rakyat mereka rampas kembali, plus bunganya.” Saya menghela nafas

“Uniknya, 2013 dan 2014 keadaan berubah kembali. Dunia terasa layaknya di surga lagi. Banyak malaikat-malaikat bertebaran dan bertengger kembali. Begitu terus siklusnya.”

Hahaha…. Tentunya kalian paham saya sedang berbicara tentang apa. Otomatis bro, inilah realitas kehidupan demokrasi di negeri ini. Realita Pemilu dan caleg atau capresnya.

Maka adalah hal yang wajar ketika akhirnya rakyat jadi cenderung apatis terhadap perhelatan akbar yang ngabisin dana bertrilyun-trilyun ini. Wajar ketika di pilkada-pilkada sejumlah daerah rakyat yang mencatatkan diri sebagai golput seringkali mendekati atau melebihi angka fantastis 50%. Wow! Wajar pula bila akhirnya muncul keresahan di tingkat elit yang merasa memiliki kepentingan akan hal ini, sehingga dimunculkanlah berbagai cara mulai dari menggencarkan berita seputar pemilu sampai memfatwakan bahwa golput itu haram.

Dan kayaknya mereka harus bekerja lebih keras lagi. Semakin dekat pemilu reaksi masyarakat tetap adem ayem saja. Bahkan, seperti yang sering disiarkan di tivi-tivi ketika beberapa sampel diwawancarai terlihat banget ketidakpedulian mereka. Bahkan kebanyakan nggak tahu kapan pemilu tersebut dilaksanakan, nggak tahu kalo di 2009 nanti yang dipakai bukan lagi sebuah paku besar untuk melubangi, tapi pakai spidol atau pulpen (eh, bener nggak? Terus terang saya juga nggak tahu alat dan mekanisme milihnya nanti gimana.. hehe)

Dan bila jumlah mereka betul-betul dalam kisaran 50% tersebut, maka berarti saya nggak sendiri-sendiri amat. Hip-hip huraii! saya banyak teman!

Sumpah, saya gak peduli! Sejujurnya saya merasa terganggu malah. Banyak acara tivi yang akhirnya tergeser demi kepentingan pemilu, bosaaan! Dengar ocehan-ocehan yang gitu-gitu aja. Bosan lihat tivi, enaknya jalan-jalan keluar rumah. Eh, kini malah cuci mata saya diganggu lagi dengan wajah-wajah mendadak artis. Huuh… mengganggu pemandangan. Mulai dari ukuran stiker sampai baliho gede. Yang bikin gak segar, adalah asalnya mereka membuat desain iklan-iklan di stiker dan baliho. Monoton, yang laki-laki pakai kupiah yang wanita pakai kerudung atau sanggul plus kebaya. Di belakangnya ada lambang partainya. Di sisinya nomor urut mereka, di bawahnya tulisan-tulisan yang tak ketinggalan monotonnya ”Membangun banua”, ”Pilihlah saya”, ”Anti korupsi”, ”Kreatif, gaul dan peduli”. Saya yang penikmat desain art merasa miris dengan begitu sederhana dan ’biasa’nya iklan mereka. Coba dong, ikuti kayak kekreatifan desain iklan-iklan rokok! Kan manis juga dipandang.”

Tapi bila dipikir-pikir ada rasa kasihan juga pada mereka. Coba deh dihitung-hitung berapa duit yang mereka korbankan demi menjadi selebritis dadakan itu. Karena saya sering terlibat dalam urusan cetak mencetak, sedikit banyak saya tahu hitung-hitungan bikin stiker kalender dan baliho atau kaus. Untuk digital printing harga per meter yang standar 40-50ribu rupiah. Anggap saja mereka bikin ukuran sedang 2×3 meter artinya biayanya satu baliho adalah 50ribu x 6meter persegi = 300 ribu. Disebar di 6 tempat berarti jadi 1,8 juta. Biaya foto, desain, pinjam jas anggap saja 100ribu. Beli kayu dan biaya tukang serta biaya pemasangan kita anggap 300 ribu. Berarti untuk biaya iklan di jalanan saja perlu 2,2juta. Belum lagi biaya cetak stiker. Harga bikin stiker kita anggap 1000 rupiah, buat 500 stiker berarti 500ribu, bikin kalender 3000 kalikan 200 eksemplar berarti 600ribu. Bikin kaus 30ribu kalikan 50 buah berarti 1.5 juta. Pasang iklan di koran untuk 1 hari hitam putih ukuran kecil 500 ribu. Nah untuk promosi saja hitungan kasar saya, perlu 5,3 juta. Itu belum lagi bila promosinya menggunakan media kartu pos, radio atau televisi. Dan jangan lupa pula. Emangnya biaya yang diperlukan cuma biaya promosi? Masih banyak yang lain! Misalnya pemeriksaan kesehatan yang sekitar 700ribu, sumbangan buat partai, mengupah warga buat ikut pawai, ngasih sembako gratis dan lain-lain. Yah plus tetek bengek anggap saja seorang caleg perlu dana minimal 10jutaan.

Pertanyaannya sekarang, relakah anda bila 10juta tadi raib sia-sia? Maka wajar seperti cerita saya di awal, selepas pemilu yaitu 2010, 2011, 2012 para selebritis dadakan kita yang awalnya senyumnya terlihat begitu manis satu per satu kemudian membuka topengnya. Maka bermunculanlah berbagai headline berita tentang kebengisan dan keculasan mereka. Kenapa? Manusiawi, mereka sudah habis banyak modal, maka prinsip ekonomi berjalan, saya sudah menanam modal, maka saya minimal harus balik modal.

Maka para pembaca sekalian, demikianlah. Maka suara-suara kita tak lebih dari komoditas bisnis. Pemilu adalah cara lain berinvestasi. Ketika berhasil mendapatkan posisi, maka saatnya memetik buah hasil ’perjuangan’ kita. Nah, kalau akhirnya kalah… investasi anda sia-sia. Maka kuatkan batin anda, banyak zikir, karena kalo nggak larinya bakal ke rumah sakit jiwa.

Jadi sodara-sodara, saksikanlah… inilah democrazy!

***

Suatu ketika waktu di poli penyakit paru. Saat itu sedang musim pemeriksaan kesehatan para caleg. Ada caleg yang dirujuk ke bagian paru untuk diperiksa keadaan parunya karena curiga ada TBC. Iseng, sambil menganamnesa dan auskultasi ronkhi parunya, saya bertanya. ”Dari partai mana pak?”

Itu lho, partainya bapak yang pernah jadi mentri dulu itu.” jawab si bapak yang kira-kira usianya 30an itu sambil menyebutkan nama seorang tokoh nasional.

”Eh, kalo boleh tahu apa tujuan bapak jadi caleg?” selidik saya sambil memain-mainkan stetoskop.

”Mmmm…” Bapak itu kemudian tersenyum malu.

”Sejujurnya dek…. saya ini sebenarnya pengangguran. Susah nyari kerja. Yaaa… itung-itungan coba-coba cari peluang di bidang ini. Syukur-syukur kena nantinya. Saya pengen kayak orang-orang juga dek…” pungkasnya polos.

Saya, saat itu, hanya bisa tersenyum kecut.

Dasar caleg…!

•Maret 8, 2009 • 1 Komentar

senyum-kambing

Dear All,
Rasanya ini baik untuk direnungkan setiap kita yang merasa “berkecukupan” dan selalu “dimanja” oleh Tuhan.
——————————————————————————–

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

* * *

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:   “Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya    mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk    mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.    Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak  mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli   alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan    goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras.    Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja    jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang    (sambil hiburan) saya ngamen.    Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan    saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap.    Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini    belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu    tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil    marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir    Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh.    Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung.    Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit    hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh    siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup.    Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya    memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang    besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa    ke dokter.    Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan    saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu,    di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk    sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak    cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti    bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.    Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu    memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas    jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil    dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter.    Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya    dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya,   atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis.    Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin    berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih    sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi    pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan.    Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa    melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

BY: www.Dudung.net

Semu setiap masa

•Mei 4, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Untuk kenanganku yang sampai sekarang terus muncul dalam benakku, berlalu tanpa melihat sisi lain yang begitu semu. Ternyata terakhir kali bagian hati ini tanpa terlihat lagi hingga masa lain tiba, sungguh ironis memang tapi tak apa asalkan sisi lain yang meraba dunia tersentuh olehku.. yaitu sisi sang Pencipta yang terpatri olehNya.
Harapan sang bunda ternyata baru kusadari semenjak lama kutinggalkan asa ini,semua harapan ini terlalu menuju keliang tempat dimana kesombonganku terlihat begitu hebat dan saling mempengaruhi kehidupanku. Selang masa yang lalu kini ku peroleh cara tapi tak sempat kuhempas di kehidupanku, lalu kubertanya bagaimana ini bisa terjadi bilamana ini hidupku, ini caraku dan ini akan kulakukan tapi tak begitu berarti karena kegundahan,kesepian dan ketergantungan ku pada sisi lain sangat melonjak dari hari ke hari,
Sang pencipta yang Mulia dialah yang menunjukkan jalanku lewat takdirnya.. diselah batinku terselip kehendak untuk menggapai asa itu, sekali lagi bagaimanakah caranya dan beri aku petujuk untuk melakukan perjalanan cara itu, kalau memang ada siapakah yang menjadi actor dikehidupanku yang seharusnya diriku yang menjadi peran utama. Tapi selama ini yang kulakukan tak terlihat hasil yang memuaskan karena tombak yang terlalu jauh Tajam selalu menusuk dikala jiwa hampa dan tak berangan untuk kulalui..sebagaimana kebaikan selalu ku damba.
Kebaikan tidak ditentukan oleh perbuatan-perbuatan baik melainkan oleh kualitas kebaikan yang meraja dalam hati kita. Bermimpi tanpa mau melakukan sesuatu untuk membuat mimpi menjadi kenyataan menggiring kita kepada kehidupan yang tidak pernah menghasilkan buah. Kebaikan tidak terletak dalam melakukan dengan benar karena peraturan, melainkan melakukan yang benar karena alasan yang benar.
Hanya dengan berpikir positif tentang diri kita dan kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup kita, kita dapat menjadi periang dan sehat. Cara terbaik untuk menghilangkan musuh-musuhmu adalah dengan mencintai mereka.
Diceritakan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab menulis surat kepada Abu Musa al-’Asy’ary, “Segala kebaikan terletak di dalam keridlaan. Maka jika engaku mampu, jadilah orang yang ridla; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar.” Kebaikan tidak ditentukan oleh perbuatan-perbuatan baik melainkan oleh kualitas kebaikan yang meraja dalam hati kita. Bermimpi tanpa mau melakukan sesuatu untuk membuat mimpi menjadi kenyataan menggiring kita kepada kehidupan yang tidak pernah menghasilkan buah. Kebaikan tidak terletak dalam melakukan dengan benar karena peraturan, melainkan melakukan yang benar karena alasan yang benar. Hanya dengan berpikir positif tentang diri kita dan kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup kita, kita dapat menjadi periang dan sehat. Cara terbaik untuk menghilangkan musuh-musuhmu adalah dengan mencintai mereka.

penulis : melandras@yahoo.com