Semu setiap masa
Untuk kenanganku yang sampai sekarang terus muncul dalam benakku, berlalu tanpa melihat sisi lain yang begitu semu. Ternyata terakhir kali bagian hati ini tanpa terlihat lagi hingga masa lain tiba, sungguh ironis memang tapi tak apa asalkan sisi lain yang meraba dunia tersentuh olehku.. yaitu sisi sang Pencipta yang terpatri olehNya.
Harapan sang bunda ternyata baru kusadari semenjak lama kutinggalkan asa ini,semua harapan ini terlalu menuju keliang tempat dimana kesombonganku terlihat begitu hebat dan saling mempengaruhi kehidupanku. Selang masa yang lalu kini ku peroleh cara tapi tak sempat kuhempas di kehidupanku, lalu kubertanya bagaimana ini bisa terjadi bilamana ini hidupku, ini caraku dan ini akan kulakukan tapi tak begitu berarti karena kegundahan,kesepian dan ketergantungan ku pada sisi lain sangat melonjak dari hari ke hari,
Sang pencipta yang Mulia dialah yang menunjukkan jalanku lewat takdirnya.. diselah batinku terselip kehendak untuk menggapai asa itu, sekali lagi bagaimanakah caranya dan beri aku petujuk untuk melakukan perjalanan cara itu, kalau memang ada siapakah yang menjadi actor dikehidupanku yang seharusnya diriku yang menjadi peran utama. Tapi selama ini yang kulakukan tak terlihat hasil yang memuaskan karena tombak yang terlalu jauh Tajam selalu menusuk dikala jiwa hampa dan tak berangan untuk kulalui..sebagaimana kebaikan selalu ku damba.
Kebaikan tidak ditentukan oleh perbuatan-perbuatan baik melainkan oleh kualitas kebaikan yang meraja dalam hati kita. Bermimpi tanpa mau melakukan sesuatu untuk membuat mimpi menjadi kenyataan menggiring kita kepada kehidupan yang tidak pernah menghasilkan buah. Kebaikan tidak terletak dalam melakukan dengan benar karena peraturan, melainkan melakukan yang benar karena alasan yang benar.
Hanya dengan berpikir positif tentang diri kita dan kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup kita, kita dapat menjadi periang dan sehat. Cara terbaik untuk menghilangkan musuh-musuhmu adalah dengan mencintai mereka.
Diceritakan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab menulis surat kepada Abu Musa al-’Asy’ary, “Segala kebaikan terletak di dalam keridlaan. Maka jika engaku mampu, jadilah orang yang ridla; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar.” Kebaikan tidak ditentukan oleh perbuatan-perbuatan baik melainkan oleh kualitas kebaikan yang meraja dalam hati kita. Bermimpi tanpa mau melakukan sesuatu untuk membuat mimpi menjadi kenyataan menggiring kita kepada kehidupan yang tidak pernah menghasilkan buah. Kebaikan tidak terletak dalam melakukan dengan benar karena peraturan, melainkan melakukan yang benar karena alasan yang benar. Hanya dengan berpikir positif tentang diri kita dan kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup kita, kita dapat menjadi periang dan sehat. Cara terbaik untuk menghilangkan musuh-musuhmu adalah dengan mencintai mereka.
penulis : melandras@yahoo.com

Tinggalkan Balasan